Daily Dose Indonesia – Dukungan terhadap pelestarian Seni Tradisi Tiban tidak hanya datang dari pemerintah daerah. Ketua DPRD Kabupaten Blitar Supriadi bersama jajaran Fraksi PDI Perjuangan turut menunjukkan komitmen menjaga warisan budaya leluhur tersebut agar tetap hidup dan terjaga kemurniannya.
Komitmen itu terlihat dalam pagelaran Seni Tradisi Tiban di Area Alun-Alun Kanigoro, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Blitar ke-702 dan mempertemukan pelaku Tiban dari Blitar dan Tulungagung.
Supriadi memandang pelestarian seni tradisi harus dimulai sejak sekarang. Menurutnya, tradisi yang diwariskan para leluhur memiliki nilai yang semakin penting ketika mampu dipertahankan keasliannya di tengah perubahan zaman.
Ia menilai seni tradisi tidak cukup hanya ditampilkan dalam berbagai kegiatan. Pemerintah dan masyarakat perlu memastikan nilai, bentuk, serta karakter asli kesenian tetap terjaga.
“Kalau seni tradisi warisan leluhur ini kita lindungi dan lestarikan mulai sekarang, maka kemurniannya akan tetap terjaga. Ini yang nantinya menjadi sangat berharga bagi generasi yang akan datang,” ujar Supriadi.
Karena itu, Supriadi menilai ruang pertunjukan seperti pagelaran Tiban memiliki arti penting. Selain menjadi hiburan masyarakat, kegiatan tersebut menjadi sarana memperkenalkan kembali warisan budaya kepada generasi muda.
Menurutnya, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan seni tradisi tidak kehilangan jati dirinya. Pelestarian juga harus berjalan bersama dengan pengenalan kepada masyarakat agar tradisi tidak sekadar tersimpan sebagai catatan sejarah.
Dukungan tersebut juga ditunjukkan sejumlah anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Blitar yang hadir dalam pagelaran. Selain Supriadi, tampak Gatot Darwoto, Budiono, Budi Susila Jaya, Aryo Nugroho, Suratun Nasikhah, Fatatoh Hironi Ulya, dan Didik Budianto.
Kehadiran jajaran fraksi itu memperlihatkan bahwa pelestarian seni tradisi mendapat perhatian dari unsur legislatif. Terlebih, Tiban merupakan kesenian yang masih memiliki komunitas dan penggemar di Blitar serta daerah sekitar.

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar sekaligus Anggota DPRD Jawa Timur Guntur Wahono menegaskan dukungan terhadap keberlanjutan Tiban. Ia menyebut pagelaran tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah bersama masyarakat untuk melindungi dan merawat seni tradisi.
“Tentu ini juga bagian daripada upaya pemerintah daerah beserta masyarakat melindungi, melestarikan, dan merawat seni tradisi Tiban yang ada di Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, dan sekitarnya,” kata Guntur.
Guntur bahkan berharap Tiban kembali mendapat ruang dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Blitar tahun berikutnya. Ia menyampaikan harapan agar pemerintah daerah tetap memberikan izin dan dukungan terhadap pelaksanaan pagelaran tersebut.
“Dan mudah-mudahan Pak Pembina, ini untuk berikutnya masih tetap diizinkan ikut serta meramaikan dalam rangka rangkaian Hari Jadi Kabupaten Blitar yang ke-703 di tahun 2027,” ujarnya.
Pagelaran tahun ini mempertemukan jawara Tiban Blitar dengan pelaku seni dari Tulungagung. Pertunjukan kemudian dilanjutkan pada Minggu (9/8/2026) dengan mempertemukan jawara Blitar dengan pelaku Tiban dari Trenggalek dan Kediri.
Guntur menilai perbedaan gaya dalam pertunjukan tidak boleh menghilangkan hubungan persaudaraan. Justru arena Tiban menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mempererat silaturahmi antarpelaku seni.
“Komitmen yang kita bangun adalah beda gaya satu rasa, di atas kita tarung, adu skill, adu keahlian, tetapi di bawah kita adalah sahabat dan saudara,” tegasnya.
Guntur menambahkan tidak hanya fraksi PDI Perjuangan di Kabupaten Blitar, festival Tiban ini didukung Bupati Blitar Rijanto yang menyediakan tempat di Alun-Alun Kanigoro, lalu juga ada dukungan dari Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Pulung Agustanto, Anggota DPRD Jawa Timur Fraksi PDI Perjuangan Guntur Wahono, Ketua DPRD Kabupaten Blitar Supriadi, serta Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar Basori.
Dengan dukungan pemerintah, legislatif, komunitas seni, dan masyarakat, Tiban diharapkan tidak berhenti sebagai pertunjukan tahunan. Tradisi tersebut perlu terus diberi ruang agar tetap hidup, memiliki identitas yang kuat, serta diwariskan kepada generasi mendatang dalam bentuk yang tetap autentik.





