Daily Dose Indonesia – Ribuan warga memadati sepanjang Jalan Ir. Soekarno hingga kawasan Makam Bung Karno, Senin (1/6/2026), untuk menyaksikan sekaligus berebut hasil bumi dalam Kirab Gunungan Lima yang menjadi salah satu agenda utama peringatan Hari Lahir Pancasila di Kota Blitar.
Tradisi yang menjadi bagian dari rangkaian Grebeg Pancasila 2026 itu kembali menyedot perhatian masyarakat. Warga dari berbagai daerah memadati jalur kirab sejak pagi hari demi mendapatkan sayuran, umbi-umbian, cabai, kacang panjang, hingga ontong yang tersusun dalam Gunungan Lima sebelum akhirnya diperebutkan usai kirab selesai.
Kirab Gunungan Lima tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga mengandung pesan filosofis yang erat kaitannya dengan nilai-nilai Pancasila. Melalui tradisi budaya tersebut, Pemerintah Kota Blitar berupaya menghidupkan kembali semangat kebangsaan sekaligus memperkuat identitas daerah sebagai Kota Pancasila.

Gunungan Lima Simbol Nilai-Nilai Pancasila
Dalam kirab tersebut, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin bersama sang istri, Kharisa Rizqi Umami Muhibbin, turut ambil bagian dengan mengayuh becak menuju Makam Bung Karno bersama rombongan kirab.
Mas Ibin menjelaskan Gunungan Lima berisi berbagai hasil bumi seperti sayuran, umbi-umbian, cabai, kacang panjang, hingga jantung pisang atau ontong. Lima jenis hasil bumi tersebut dipilih karena melambangkan lima sila dalam Pancasila.
“Termasuk semalam ada pawai belimbing yang memiliki lima sisi. Itu juga menjadi simbol Pancasila,” ujar Mas Ibin.
Menurutnya, angka lima memiliki makna yang sangat istimewa karena identik dengan lima sila yang menjadi dasar negara sekaligus pedoman kehidupan bangsa Indonesia.
Mas Ibin juga mengaku senang melihat antusiasme masyarakat yang begitu tinggi mengikuti Kirab Gunungan Lima. Ia menilai semangat warga menunjukkan bahwa nilai kebersamaan dan gotong royong masih terjaga dengan baik di tengah masyarakat.

Salah seorang warga, Hartami, mengaku sengaja menunggu kirab di kawasan Jalan Ir. Soekarno untuk mendapatkan hasil bumi dari Gunungan Lima. Ia berhasil membawa pulang beberapa jenis sayuran seperti terong, gambas, dan petsai.
“Acaranya sangat meriah. Semoga tahun depan bisa lebih meriah lagi,” katanya.
Kemeriahan kegiatan juga membawa berkah bagi para pelaku usaha kecil. Salah satunya Erit, pedagang telur gulung yang berjualan di sekitar lokasi kirab. Ia mengaku dagangannya laris diserbu pengunjung yang memadati kawasan kegiatan.
“Alhamdulillah belum satu jam sudah mendapatkan lebih dari seratus ribu rupiah. Semoga tahun depan pesertanya lebih banyak lagi,” ungkap Erit.
Festival Lentera dan Gunungan Dorong Kreativitas Warga
Selain menjadi tradisi budaya, Grebeg Pancasila tahun ini juga menghadirkan inovasi baru melalui festival lentera dan kirab gunungan hasil bumi. Pemerintah Kota Blitar untuk pertama kalinya memberikan penilaian dan penghargaan kepada peserta terbaik pada kedua kategori tersebut.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar, Rike Rochmawati, mengatakan penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi agar peserta terus berinovasi dan menampilkan karya terbaik dalam setiap penyelenggaraan Grebeg Pancasila.
“Untuk tahun ini kita memfestival-kan lentera maupun gunungan. Nantinya akan dipilih tiga karya terbaik yang mendapatkan hadiah dan piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi bagi peserta yang kreatif dan sesuai dengan tema,” ujarnya.
Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari kreativitas kolektif, kesesuaian dengan tema Grebeg Pancasila, nilai estetika karya, hingga penampilan peserta selama mengikuti rangkaian kegiatan.

Festival lentera atau lampion Kota Blitar tahun 2026 ini diikuti sekitar 38 peserta yang berasal dari kalangan pelajar, organisasi perangkat daerah, dan berbagai instansi lainnya. Sementara kirab gunungan hasil bumi diikuti perwakilan kecamatan dan kelurahan se-Kota Blitar.
Melalui pemberian penghargaan tersebut, Pemerintah Kota Blitar berharap partisipasi masyarakat dalam Grebeg Pancasila terus meningkat sekaligus melahirkan karya-karya kreatif yang memperkuat pelestarian budaya dan nilai-nilai Pancasila.
Kenduri Pancasila Perkuat Warisan Bung Karno
Puncak seluruh rangkaian Grebeg Pancasila 2026 ditutup dengan Kenduri Pancasila yang digelar di pelataran UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Ribuan masyarakat bersama tamu undangan mengikuti kegiatan tersebut dalam suasana khidmat dan penuh makna.
Kenduri Pancasila menjadi ritus penutup setelah seluruh rangkaian kegiatan terlaksana, mulai dari Bedhol Pusaka Nagari, Pawai Lentera, Malam Tirakatan Macapat, Upacara Hari Lahir Pancasila, hingga Kirab Gunungan Lima.
Dalam kesempatan tersebut, Mas Ibin menegaskan bahwa Pancasila tidak hanya dipahami sebagai dokumen kenegaraan yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Menurutnya, Pancasila merupakan jiwa bangsa yang harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila bukan sekadar dokumen historis atau teks normatif yang tertulis di pembukaan UUD. Dia adalah jiwa bangsa dan pedoman dalam mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka, bersatu, adil, dan makmur,” tegasnya.
Mas Ibin menambahkan lima sila dalam Pancasila lahir dari nilai-nilai luhur yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Indonesia. Karena itu, Grebeg Pancasila tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga sarana refleksi agar masyarakat terus mengamalkan nilai-nilai tersebut.
Sementara itu, Rike Rohmawati mengatakan Kenduri Pancasila merupakan ritus kelima sekaligus penutup seluruh rangkaian Grebeg Pancasila. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal sekaligus media pendidikan karakter bagi masyarakat.
“Harapan kami, melalui pelaksanaan upacara budaya ini masyarakat dapat terus nguri-uri kearifan lokal Kota Blitar sekaligus menjadikannya sebagai media edukasi untuk menanamkan nilai-nilai ideologi Pancasila kepada seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Makna filosofis Kenduri Pancasila juga disampaikan budayawan Sanggar Pasinaon Pambiworo Kota Blitar, Suroto. Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar seremoni budaya, melainkan doa bersama masyarakat agar bangsa Indonesia senantiasa diberikan keselamatan, ketenteraman, dan kemampuan untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara nyata.
“Kenduri Pancasila adalah simbol manunggaling rasa syukur, doa, dan harapan masyarakat. Seluruh rangkaian Grebeg Pancasila mengandung pesan agar warisan budaya dan nilai kebangsaan tetap lestari, tumbuh, serta menjadi penuntun kehidupan masyarakat Indonesia,” tuturnya.
Melalui rangkaian Grebeg Pancasila yang memadukan tradisi, kreativitas, dan nilai kebangsaan, Pemerintah Kota Blitar terus memperkuat posisinya sebagai Kota Pancasila, kota tempat Bung Karno dimakamkan sekaligus ruang hidup bagi warisan pemikiran sang Proklamator yang terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa.





