Daily Dose Indonesia — Suasana rumah anggota DPRD Jawa Timur, Guntur Wahono, di Dusun Tambakboyo, Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, Jumat (21/11/2025) malam, berubah menjadi forum strategis yang penuh gagasan besar. Di tempat kelahirannya itu, Guntur—kader senior PDI Perjuangan yang kini mewakili Tulungagung, Blitar, dan Kota Blitar di DPRD Jatim—mengumpulkan para tokoh nasionalis untuk membahas masa depan pembangunan daerah.
Pertemuan yang berlangsung hangat namun serius itu merupakan agenda reses masa sidang ketiga tahun 2025. Guntur menjelaskan bahwa forum tersebut bukan sekadar acara serap aspirasi biasa, tetapi ruang diskusi tokoh lokal nasionalis untuk merumuskan persoalan dan peluang strategis bagi Blitar dan wilayah tapal kuda selatan.
“Ini kita ketemu dengan para tokoh-tokoh nasionalis, para senior. Kita pengen mendengarkan apa toh sebetulnya yang menjadi keluhan masyarakat itu,” ujar Guntur usai kegiatan reses malam itu.
Ia menuturkan, dari diskusi itu banyak masukan konkret yang muncul, mulai dari usulan pembangunan hingga peluang usaha. Guntur menegaskan bahwa forum semacam ini tidak boleh berhenti sekali pertemuan, melainkan menjadi tradisi politik yang sehat dan berkelanjutan.
“Pertemuan ini harus berlanjut terus… kami berkomitmen setiap empat bulan sekali di masa sidang, kami akan selalu mempertemukan antara tokoh-tokoh masyarakat kalau perlu dengan pejabat pemerintah daerah, dalam ini pak bupati. Syukur-syukur kalau berkenan kawan-kawan DPRD, sehingga tahu dan kita melaksanakan tugas itu tepat, tidak sampai kebijakan di luar yang dikehendaki masyarakat,” tegasnya.
Isu Strategis: Banjir Lodoyo Akibat Penebangan Liar
Dalam forum itu, salah satu persoalan yang paling banyak disorot adalah banjir tahunan di wilayah Lodoyo, Kecamatan Sutojayan yang menjadi sebuah masalah klasik yang semakin parah akibat penebangan hutan ilegal beberapa tahun silam.
“Isu banjir di Lodoyo itu karena terjadinya penebangan hutan yang liar yang dilakukan masyarakat beberapa tahun yang silam. Dampaknya terhadap masyarakat Sutojayan dan sekitarnya sampai hari ini,” jelas Guntur.
Ia menekankan bahwa penyelesaian masalah ini tidak boleh hanya dibebankan kepada masyarakat. Semua pihak harus terlibat mulai dari pemerintah daerah, instansi teknis, perhutani, hingga masyarakat sendiri.
“Korban tetap di pihak masyarakat… maka tetap harus dilakukan reboisasi. Tetapi kalau sudah dilakukan reboisasi, kemudian Perhutani melakukan kerja sama dengan masyarakat penanam tebu, maka kuncinya satu, tanaman keras jangan sampai dihilangkan,” tambahnya.
Paparan Capaian Program: Dari Mobil Siaga hingga Pembangunan Pasar
Selain menyerap aspirasi, Guntur juga memaparkan program yang telah direalisasikan sepanjang masa jabatannya. Berbagai pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik terus ia perjuangkan melalui APBD Provinsi Jawa Timur.
“Mobil-mobil siaga ini selalu kita realisasikan dari tahun ke tahun. Di tahun 2025 ini kurang lebih sekitar 10–11 unit, tetapi nanti 2026 sekitar 13, dan sampai detik ini sudah 109 yang bisa dinikmati oleh desa-desa yang mengajukan bantuan mobil siaga dari APBD Provinsi Jawa Timur,” terang Guntur yang sudah 2 periode terpilih di DPRD Jatim sejak pemilu 2019.
Selain mobil siaga, ia juga menyebutkan pembangunan pasar, makam leluhur, alat seni, jembatan, hingga bantuan untuk sekolah tingkat TK dan SLTA yang saat ini masih dalam proses.
Forum Nasionalis yang Menjadi Arah Politik Masa Depan
Di tengah berbagai dinamika pembangunan daerah dan tantangan lingkungan, forum nasionalis yang digagas Guntur ini tampak menjadi ruang strategis yang akan mengarahkan keputusan politik ke depan.
Politisi PDI Perjuangan tersebut tidak hanya menyerap keluhan, tetapi juga memposisikan diri sebagai penghubung antara kelompok nasionalis akar rumput dengan kebijakan provinsi. Dalam konteks politik Jatim yang kompetitif, langkah ini menjadi sinyal bahwa Guntur sedang memperkuat jaringan ideologis sekaligus memperdalam pijakan elektoralnya menuju strategi jangka panjang.
Pertemuan itu ditutup dengan kesepakatan bahwa forum nasionalis akan digelar rutin setiap empat bulan, sebagai komitmen menjaga agar aspirasi masyarakat tidak sekadar masuk dalam laporan reses, tetapi sungguh-sungguh menjadi dasar kebijakan.
Dengan momentum tersebut, reses Guntur Wahono kali ini bukan hanya kegiatan formal, tetapi juga panggung konsolidasi nasionalis untuk merumuskan masa depan Blitar, Tulungagung, dan Kota Blitar dalam gerak pembangunan Jawa Timur yang lebih visioner.





