Daily Dose Indonesia — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan pentingnya memastikan tidak ada anak di bawah usia 18 tahun yang terlewat sebagai penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis. Penegasan itu disampaikan Dadan usai meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola Yayasan Pesantren Baiturrohman di Kota Blitar, Rabu (31/12/2025).
Dalam keterangannya, Dadan menyebut masih ada potensi anak yang belum terdata dalam berbagai basis data layanan pemerintah. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah untuk aktif menyisir dan mengintegrasikan pendataan lintas sektor agar seluruh sasaran benar-benar terjangkau program negara tersebut.
“Atas undangannya ke Kota Blitar ini pertama kali saya sampai di Blitar dan saya ucapkan terima kasih kepada ibu wali kota yang telah mengundang saya dan terima kasih karena mendorong program makan bergizi ini demikian cepat di Kota Blitar,” ujar Dadan.
“Dan juga Pak Kapolres ini sudah semangat sudah membangun empat, jadi kontribusi masyarakat luar biasa dan saya kira penting untuk Kota Blitar,” sambung Dadan.
Dadan menekankan bahwa percepatan pelaksanaan harus diiringi ketepatan sasaran. Ia menyoroti pengalaman di berbagai daerah yang menunjukkan masih adanya penerima potensial yang luput dari pendataan formal.
“Seperti yang disampaikan oleh ibu wali kota, kita masih akan menyisir penerimaan manfaat yang selama ini belum terdaftar baik itu di Dapodik, di Kementerian Agama maupun di Posyandu,” kata Dadan.
Ia menambahkan bahwa pemunuhan gizi anak-anak merupakan prioritas dari BGN. “Karena dari pengalaman banyak yang masih belum terdata sehingga kami meminta kepada ibu wali kota untuk memastikan tidak ada anak di bawah usia 18 tahun yang tidak menerima manfaat program kami.”
Integrasi Data untuk Kelompok Rentan
Pernyataan tersebut menempatkan isu integrasi data sebagai kunci keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis. Dadan menilai, penggabungan data dari Dapodik, Kementerian Agama, dan Posyandu bukan hanya soal administrasi, melainkan upaya memastikan negara hadir bagi kelompok paling rentan—anak-anak yang membutuhkan asupan gizi layak.
BGN, lanjut Dadan, mencatat capaian nasional program ini terus meningkat pesat hingga akhir 2025. Namun, di balik angka besar itu, ia mengingatkan bahwa kualitas layanan dan akurasi sasaran tetap menjadi prioritas.
“Sampai hari ini ada 19.000, sampai tadi malam ya 19.069 dan hari ini kemungkinan masih akan bertambah 100 sehingga kita akan menutup tahun 2025 dengan 19.100-an lebih SPPG. Dan itu berpotensi melayani 55 juta penerima manfaat,” ungkap Dadan.
Menurut Dadan, skala penerima manfaat tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab negara untuk memastikan setiap porsi makanan tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dan tepat sasaran. Karena itu, BGN terus melakukan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan program di lapangan.
“Alhamdulillah berjalan dengan cepat dan sebagian besar melakukannya dengan sangat baik,” ujarnya.
Dadan memaparkan dinamika evaluasi sepanjang 2025. “Memang ada beberapa kejadian ya, misalnya di September itu ada 60 kejadian, naik di Oktober 85 kejadian, tapi kemudian turun drastis di November 40 kejadian dan alhamdulillah di Desember ini menyisakan 11 kejadian,” kata dia.
Ia menegaskan komitmen perbaikan berkelanjutan. “Dan kami targetkan 11 ini akan kami hilangkan di tahun 2026, yaitu menunjukkan bahwa program makan bergizi makin lama makin baik,” ujar Dadan.
Menurutnya, pembelajaran sepanjang tahun pertama pelaksanaan membuat seluruh pihak yang terlibat semakin menyadari pentingnya standar kualitas. “Semua orang yang terlibat makin menyadari pentingnya peningkatan kualitas sehingga konsumsi atau makanan yang diberikan tidak hanya menyehatkan tapi juga aman dikonsumsi,” ucapnya.
Dengan penekanan pada inklusi anak di bawah 18 tahun dan integrasi data lintas lembaga, Program Makan Bergizi Gratis diarahkan tidak sekadar menjadi program masif, tetapi juga kebijakan publik yang berkeadilan. Di titik ini, negara diharapkan benar-benar hadir, memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari hak dasar atas gizi yang layak.





