Daily Dose Indonesia — Setelah vakum hampir satu dekade, budidaya tembakau akhirnya kembali hidup di Kota Blitar. Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin atau yang akrab disapa Mas Ibin, memimpin langsung kegiatan pelatihan dan penyerahan bantuan sarana pertanian bagi petani di Kelurahan Ngadirejo, Senin (10/11/2025). Langkah ini menjadi tonggak baru kebangkitan ekonomi rakyat berbasis pertanian di Kota Proklamator.
Di hadapan para petani yang tergabung dalam Gapoktan Setia Kawan, Mas Ibin menegaskan bahwa penghidupan kembali budidaya tembakau bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan strategi nyata untuk memperkuat ekonomi kerakyatan. “Selama sepuluh tahun, budidaya tembakau di Kota Blitar sempat vakum. Hari ini, kita hidupkan kembali tradisi itu dengan pendekatan ilmu dan teknologi,” ujar Mas Ibin dalam sambutannya.
Menurutnya, potensi agroklimat Blitar sangat mendukung untuk komoditas pertanian unggulan, termasuk tembakau. Karena itu, Pemerintah Kota Blitar ingin memastikan tradisi menanam tembakau dijalankan dengan prinsip inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan. “Tembakau adalah warisan ekonomi yang telah menjadi bagian dari rantai usaha rakyat, dari hulu hingga hilir,” ucapnya.
Mas Ibin juga menekankan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah membangun ekonomi rakyat dari bawah, dengan mengedepankan peran petani sebagai pelaku utama. Ia berharap kegiatan pelatihan yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar ini bisa mengubah pola pikir petani agar tidak hanya menjual hasil panen mentah. “Kami ingin agar hasil panen petani Blitar tidak hanya dijual mentah. Dengan pengolahan, tembakau bisa menjadi fondasi ekonomi daerah yang tangguh dan membuka lapangan kerja baru,” tuturnya.
Lebih jauh, Mas Ibin menyoroti pentingnya menciptakan brand tembakau khas Blitar dengan cita rasa dan aroma unik yang mampu bersaing di pasar nasional. Ia bahkan menyebut peluang besar bagi petani Blitar untuk menjadi pemasok bahan baku industri rokok besar seperti PT HM Sampoerna dan Gudang Garam.
Selain itu, budidaya tembakau dinilai dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Dana ini, kata Mas Ibin, akan terus diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat dan infrastruktur pertanian. “Kita manfaatkan DBHCHT bukan hanya untuk bantuan, tapi juga untuk investasi jangka panjang di sektor pertanian. Ini demi kesejahteraan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sinergi Pemerintah dan Industri untuk Hidupkan Kembali Tembakau Blitar
Kepala DKPP Kota Blitar, drh. Dewi Masitoh, menambahkan bahwa program kebangkitan budidaya tembakau ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah dan sektor industri. Pemerintah daerah bekerja sama dengan perusahaan pemasok bahan baku tembakau untuk pabrik rokok Sampoerna dalam memberikan pelatihan dan pendampingan teknis kepada petani. “Kami ingin menghidupkan lagi semangat menanam tembakau yang sudah vakum sekitar lima tahun terakhir. Selama ini, petani sebenarnya senang menanam tembakau. Tapi mereka butuh kepastian pemasaran. Itulah sebabnya kami fasilitasi kemitraan dengan industri,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Pemkot Blitar juga menyerahkan berbagai alat pendukung pertanian, seperti cultivator, hand sprayer elektrik, serta perlengkapan budidaya lain. Pemerintah menyediakan lahan demplot seluas 125 ru untuk uji coba penanaman kembali, dengan pendampingan intensif dari tenaga teknis lapangan.
Sementara itu, pemateri pelatihan Eko Abdurahman menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program kemitraan berkelanjutan antara perusahaan dan DKPP.
“Kita tidak hanya berhenti pada teori. Setiap kelompok tani akan mendapat pendampingan dari petugas lapangan yang memahami teknik budidaya modern. Tujuannya agar kualitas panen tembakau Blitar setara dengan daerah penghasil tembakau unggulan seperti Kediri,” jelasnya.
Eko menambahkan, varietas tembakau yang dikembangkan adalah jenis bucket oriental, yaitu tembakau rajangan halus yang digunakan untuk rokok kelas premium. Jika program ini berjalan konsisten, Blitar berpotensi menjadi sentra baru tembakau oriental di Jawa Timur.
Kegiatan pelatihan di Ngadirejo ini ditutup dengan ajakan optimistis dari Mas Ibin. Ia menilai bahwa kebangkitan ekonomi petani harus dimulai dari kolaborasi, semangat gotong royong, dan inovasi teknologi. “Mari kita jadikan momentum ini sebagai awal kebangkitan ekonomi pertanian Blitar. Dengan semangat gotong royong dan inovasi, kita bisa menjadikan tembakau sebagai komoditas unggulan yang menghidupi banyak keluarga,” tutup Mas Ibin.
Program ini sekaligus menjadi simbol bagaimana kebijakan pembangunan di tingkat lokal dapat berdampak langsung bagi masyarakat. Dari Ngadirejo, Kota Blitar menyalakan kembali semangat ekonomi rakyat, sebatang demi sebatang daun tembakau yang kini menjadi lambang kemandirian dan harapan baru bagi para petani.





