Daily Dose Indonesia — Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-61 dan HUT Korpri ke-54 di Kabupaten Blitar menghadirkan suasana berbeda tahun ini. Kawasan heritage Candi Penataran bukan sekadar menjadi lokasi wisata sejarah, tetapi berubah menjadi arena olahraga bersama ribuan orang dalam gelaran PENATARUN HKN 2025 pada Minggu pagi (16/11/2025). Acara ini menjadi simbol sinergi antara tenaga kesehatan dan masyarakat dalam menjadikan gaya hidup sehat sebagai kebiasaan bersama, bukan sekadar imbauan.
Sebanyak 1.500 peserta dari kalangan tenaga kesehatan, ASN, pelajar, komunitas, hingga warga umum ikut berlari santai menyusuri jalur wisata sekitar Penataran. Di antara peserta, jajaran RSUD Ngudi Waluyo Wlingi tampil sebagai rombongan terbesar dari instansi rumah sakit pemerintah, lengkap dengan atribut kesehatan, banner edukasi, hingga tim bantuan medis yang stand by selama kegiatan berlangsung.
Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr. Endah Woro Utami, menegaskan bahwa kehadiran RSUD dalam kegiatan ini bukan sebatas seremoni tahunan, tetapi perwujudan filosofi pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif.
“Kami ingin menunjukkan bahwa rumah sakit bukan hanya tempat berobat ketika sakit, tetapi institusi yang hadir mengajak masyarakat tetap sehat melalui olahraga dan pola hidup seimbang,” ujar dr. Woro saat ditemui usai kegiatan.
Ia juga menyampaikan harapannya agar momen seperti ini menjadi pemantik budaya baru di masyarakat. “PENATARUN ini bukan sekadar olahraga, tapi jembatan untuk menyatukan tenaga kesehatan dan masyarakat dalam semangat hidup sehat. Kami ingin dokter, perawat, dan masyarakat berlari bersama, bukan dalam konteks pasien dan tenaga medis, tapi sebagai sesama warga yang peduli kesehatan,” tambahnya.
RSUD Wlingi Hadir Sebagai Mitra Kesehatan Publik
Selama kegiatan berlangsung, tenaga kesehatan dari RSUD Ngudi Waluyo Wlingi terlihat tidak hanya ikut berolahraga, tetapi juga aktif memberikan edukasi ringan kepada peserta, mulai dari teknik peregangan, tips nutrisi, pentingnya hidrasi, hingga cara mengenali gejala kelelahan fisik. Suasana terasa cair, tidak ada jarak formal antara dokter dan warga. Banyak peserta bahkan memanfaatkan kesempatan ini untuk berkonsultasi santai tentang kesehatan pribadi.
Bagi RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, ruang interaksi seperti ini sangat berharga. Di rumah sakit, dokter cenderung bertemu pasien dalam kondisi kurang sehat. Namun di PENATARUN, dokter dan masyarakat bertemu dalam keadaan bugar, bersemangat, dan penuh energi. Pola relasi pun berubah dari hubungan kuratif menjadi promotif-preventif.
dr. Woro memandang pendekatan seperti ini sebagai investasi kesehatan jangka panjang. “Kalau masyarakat sudah terbiasa olahraga, terbiasa memperhatikan pola makan, dan rutin memeriksa kesehatan dasar, maka beban penyakit berat akan berkurang. Itu bukan hanya baik bagi warga, tetapi juga bagi sistem layanan kesehatan secara keseluruhan,” ujarnya lagi.
Di samping aspek kesehatan, dr. Woro juga menyoroti dampak ekonomi dari penyelenggaraan event lari di kawasan heritage Penataran. Minimarket, penjual minuman, penyewa gerobak jajanan, hingga pedagang UMKM terlihat kebanjiran pembeli. “Kegiatan seperti ini bukan hanya menggerakkan tubuh, tapi juga ekonomi lokal. Ini yang kami maksud sebagai kegiatan positif yang memberikan multiplier effect,” tutup dr. Woro dengan senyum.
PENATARUN HKN 2025 pun menutup pagi itu dengan suasana hangat, peserta saling menyapa, saling berbagi pengalaman lari, hingga berfoto bersama di pelataran Candi Penataran. Lebih dari sekadar event lari, acara ini menjadi simbol bahwa membangun kesehatan masyarakat tidak bisa dilakukan oleh rumah sakit saja, tetapi harus menjadi gerakan kolektif yang menyatukan tenaga kesehatan dan masyarakat sebagai satu komunitas hidup sehat.





