Di Hari Guru, Wali Kota Blitar Tegaskan: Orang Tua yang Tak Percaya Guru, Didik Sendiri Anak di Rumah

Di Hari Guru, Wali Kota Blitar Tegaskan: Orang Tua yang Tak Percaya Guru, Didik Sendiri Anak di Rumah
Wali Kota Blitar Mas Ibin memberikan penghargaan pada guru berprestasi dalam Anugerah Serenada di momen peringatan Hari Guru Nasional 2025.

Daily Dose Indonesia — Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2025 di Kota Blitar berlangsung dengan suasana meriah dan penuh muatan refleksi pendidikan karakter. Dalam kegiatan Anugerah SERENADA (Sekolah Religius Nasionalis Berbudaya) yang digelar di Gedung Kesenian Aryo Blitar, Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin atau akrab disapa Mas Ibin, memberikan pesan tegas mengenai pentingnya pendidikan karakter dan dukungan mutlak kepada guru dalam menjalankan fungsi pendisiplinan peserta didik.

Dalam sambutannya di hadapan para guru, tenaga pendidik, pengawas sekolah, PGRI, organisasi mitra Dinas Pendidikan, serta ribuan siswa, Mas Ibin menegaskan bahwa pendidikan karakter di Blitar harus berlandaskan religiusitas, nasionalisme, dan budaya ketimuran. “Hadirin yang saya hormati dan muliakan, anugerah ini tentunya sebagai simbol bahwa pendidikan di kota Blitar termasuk pendidikan yang berorientasi pada karakter peserta didik,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Mas Ibin memulai dari fondasi religius. Ia menyampaikan bahwa peserta didik Kota Blitar harus dibentuk menjadi pribadi yang berketuhanan secara utuh. “Religius itu apa? Sejalan dengan Pancasila sila pertama yaitu Ketuhanan yang maha esa, dimana seluruh siswa siswi peserta didik harus berketuhanan yang maha esa,” tegasnya.
Di kalimat berikutnya, Mas Ibin menyampaikan batasan yang tak boleh dilanggar. “Berketuhanan yang maha esa yaitu tidak boleh ada peserta didik yang tidak mempunyai Tuhan,” ucapnya.

Mas Ibin meminta agar guru tidak ragu dalam mendidik dan memastikan keyakinan dasar peserta didik. “Bapak Ibu harus memastikan, anakanak peserta didiknya itu ditanya punya Tuhan atau enggak, punya keyakinan atau enggak,” tegasnya lagi dalam lanjutan sambutan.
Lalu ia memberi peringatan ringan namun sarat makna, “Janganjangan Bapak Ibu nya juga ndak pernah tanya.”

Selain religiusitas, Mas Ibin menekankan nilai nasionalisme. Ia menyampaikan bahwa peserta didik harus memahami sejarah bangsa, memahami tugas sebagai warga negara, dan memiliki kebanggaan terhadap identitas kebangsaan. Ia menekankan bahwa pendidikan di Kota Blitar tidak hanya mencetak akademisi tetapi juga warga negara yang bertanggung jawab.

Selanjutnya, nilai berbudaya menjadi titik tekan. Mas Ibin menyebut bahwa karakter adat ketimuran harus hadir kuat dalam diri anak. Ia menegaskan pentingnya penghormatan kepada guru sebagai bagian dari budaya. “Tidak boleh menjadi anak nakal anak yang durhaka,” ujarnya tentang konsekuensi hilangnya nilai budaya penghormatan pada figur pendidik.

Bagian paling tegas dari pidatonya terjadi saat ia berbicara mengenai pendisiplinan oleh guru. Wali kota menyampaikan kesiapannya mendampingi guru yang dimasalahkan karena pendisiplinan di kelas. “Maka saya pastikan bagi guru-guru yang nanti karena pendisiplinan, karena menegakkan karakter, kemudian mengalami hambatan, nanti insya Allah walikota akan terjun langsung mendampingi guru-guru tersebut,” tegasnya.

Setelah itu, ia beralih ke pesan yang langsung menyentuh hubungan rumah tangga antara orang tua dan anak. “Bagi orang tua siswa, siapapun yang tidak terima terhadap pelaksanaan untuk membentuk karakter, maka nanti berhadapan dengan wali kota,” ujarnya.
Kemudian dalam kalimat yang keras, blak-blakan, dan jelas menjadi inti berita ini, Mas Ibin menyampaikan pernyataan yang menjadi sorotan utama. “Kalau tidak percaya pada sekolah, tidak percaya pada pendidikan, tidak percaya pada guru, silahkan diajar sendiri di rumah.”

Pernyataan itu disambut tepuk tangan panjang dari para guru yang merasa dihargai dan dilindungi. Banyak dari mereka menilai kalimat itu sebagai dukungan moral, terutama di tengah ketegangan peran guru ketika menghadapi orang tua yang terlalu protektif atau defensif.

Mas Ibin kembali menegaskan korelasi antara penghormatan pada guru dan pembentukan karakter di rumah. Ia menyatakan bahwa anak yang menghormati guru di sekolah akan cenderung menghormati orang tuanya di rumah. Ia menekankan bahwa penanaman budaya hormat harus dibentuk sejak dini.

Pada bagian akhir sambutan, Mas Ibin menyampaikan apresiasinya kepada para pendidik. Ia mengakui bahwa keberhasilannya dalam hidup juga berkat didikan guru. Ia menyampaikan hal ini dengan tulus. “Saya dalam rangka hari ini sekaligus menghormati hari guru, saya ucapkan terima kasih kepada para pendidik kita, saya sampai disini juga hasil didikan para guru saya,” ucapnya.

Selain menekankan karakter religius, nasionalis dan berbudaya, dalam kesempatan itu Wali Kota Blitar Mas Ibin menaruh pendidikan sebagai jalan mengentaskan kemiskinan. Dalam kebijakannya Mas Ibin memastikan masyarakat dalam golongan ekonomi desil 1 atau miskin ekstrem untuk disekolahkan sampai S1. Diharapkan dengan pendidikan tinggi di satu keluarga miskin ini, Mas Ibin berharap anak tersebut bisa mengangkat ekonomi keluarganya dengan mendapatkan pekerjaan layak. Dan di Kota Blitar juga akan ada sekolah rakyat berstandar internasional yang itu program dari pemerintah pusat yang ditujukan khusus bagi warga miskin, juga didukung penuh pendiriannya di Kota Blitar oleh Mas Ibin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *