Daily Dose Indonesia — Kota Blitar kembali mendapat sorotan internasional. Puluhan akademisi dan peneliti dari 30 negara hadir dalam rangka peringatan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA), yang digelar di kompleks Museum Bung Karno, Sabtu (1/11/2025). Momen ini menjadi penegasan bahwa Blitar bukan sekadar kota kecil di Jawa Timur, melainkan pusat sejarah yang menanamkan semangat solidaritas dunia ketiga sejak masa Bung Karno.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin, menyambut hangat para tamu mancanegara dalam jamuan makan malam di rumah dinasnya, Jumat malam (31/10/2025). Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali pesan persatuan dan kemerdekaan yang pernah digelorakan Soekarno. “Ini acara mengenang peringatan Konferensi Asia-Afrika yang dulu digagas Bung Karno di Bandung,” ujar Mas Ibin.
“Kota Blitar merasa terhormat bisa menjadi tempat peringatan yang menyatukan bangsa-bangsa Asia dan Afrika,” sambungnya.
Blitar dan Jejak Diplomasi Dunia
Keterlibatan Blitar dalam peringatan KAA tahun ini bukan tanpa alasan. Sebagai kota tempat dimakamkannya Bung Karno, Blitar memiliki kedudukan simbolik yang kuat dalam sejarah politik dunia. Banyak peserta KAA menganggap Blitar sebagai tempat ziarah ideologis yang mengingatkan kembali pada cita-cita kemerdekaan dan kesetaraan antarbangsa.
Mas Ibin menilai, kehadiran para akademisi dari berbagai negara bukan hanya bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah, tetapi juga peluang strategis untuk memperkuat jejaring budaya dan pendidikan global.
“Bung Karno dimakamkan di Blitar, dan bangsa-bangsa yang ingin mengenang perjuangannya pasti akan datang ke sini,” tuturnya.
Ia menyebut, Pemerintah Kota Blitar terus berupaya menghidupkan nilai-nilai Bung Karno melalui berbagai kegiatan internasional. Pemerintah juga berencana menjadikan kawasan Makam Bung Karno dan sekitarnya sebagai zona wisata sejarah dunia yang terintegrasi dengan sektor pendidikan dan ekonomi kreatif.
Dari Sejarah ke Ekonomi Pariwisata
Kegiatan peringatan KAA ini diharapkan membawa dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Selama sepekan, tingkat hunian hotel di Kota Blitar meningkat signifikan, disertai lonjakan pengunjung di sentra oleh-oleh dan kuliner lokal. Pemerintah setempat menyiapkan sejumlah agenda pendukung, seperti pameran foto sejarah, pentas budaya, hingga tur tematik “Jalur Bung Karno.”
“Momentum ini kami manfaatkan untuk memperkenalkan Blitar ke dunia. Bukan hanya sebagai kota sejarah, tapi juga destinasi wisata yang hidup, kreatif, dan terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar tentang semangat Bung Karno,” kata Mas Ibin.
Ia menambahkan, semangat Konferensi Asia-Afrika yang berlandaskan solidaritas dan kemandirian bangsa harus diterjemahkan dalam bentuk kerja sama konkret hari ini. Pemerintah Kota Blitar tengah menyiapkan konsep kerja sama kebudayaan dengan beberapa universitas di Asia Selatan dan Afrika Timur, yang difokuskan pada riset sejarah dan pertukaran pelajar.
Momentum peringatan 70 tahun KAA di Blitar menegaskan kembali posisi kota ini sebagai penjaga ide besar Soekarno: kemerdekaan, kesetaraan, dan kemandirian bangsa-bangsa. Di tengah arus globalisasi yang kerap menipiskan nilai-nilai historis, Blitar tampil sebagai ruang refleksi bahwa diplomasi sejati selalu berpihak pada kemanusiaan.
“Bung Karno terkenal di Afrika dan Asia sebagai pemersatu bangsa. Semangat itu yang ingin kami hidupkan lagi melalui peringatan ini,” tutur Mas Ibin.





