Daily Dose Indonesia – Istighosah Akbar memperingati Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-100 yang digelar di Stadion Supriyadi Kota Blitar, Sabtu (24/1/2026), berlangsung khidmat dan sarat pesan kebangsaan. Ribuan warga Nahdliyin dari Kota dan Kabupaten Blitar hadir bersama dalam satu majelis doa, menandai kekompakan NU di usia satu abad.
Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin, yang akrab disapa Mas Ibin, hadir sebagai tuan rumah sekaligus kader NU. Dalam sambutannya, Mas Ibin menyampaikan kebanggaannya bisa berada di tengah keluarga besar NU yang selama satu abad telah menjadi penyangga umat, bangsa, dan negara.
- Mas Ibin Pakai Kaos Sendiri Demi Efisiensi: Seremoni Dipangkas, Anggaran Dialihkan ke Masyarakat Blitar
- Mas Ibin Siapkan Sistem Pembayaran Pajak Profesional & Berbasis Teknologi: Fondasi Kota Masa Depan Blitar
- Prestasi Bukan Akhir: Mas Ibin Sebut Antikorupsi Harus Jadi Gerakan Sehari-hari di Kota Blitar
“Alhamdulillah, ini menjadi satu acara yang sangat kompak antara NU Kabupaten dan Kota Blitar. Sebagai kader NU, saya merasa sangat bangga sekali,” ucap Mas Ibin.
Mas Ibin mengingatkan bahwa kelahiran NU pada 31 Januari 1926 oleh para muassis, termasuk Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, bukan hanya untuk membangun jam’iyah keagamaan, tetapi juga menyatukan umat, pesantren, kiai, nyai, dan santri dalam satu wadah perjuangan.
“Seratus tahun yang lalu NU dilahirkan untuk mempersatukan jamaah, pesantren, kiai, nyai, dan santri. Dan hari ini, kita semua berharap bisa menjadi santri-santrinya para muassis Nahdlatul Ulama,” katanya.
Mas Ibin mengutip dawuh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang menyatakan bahwa siapa pun yang mengurus NU adalah santrinya. Bagi Mas Ibin, pesan itu menegaskan bahwa berkhidmat di NU adalah jalan pengabdian, bukan sekadar identitas.
“Muassis NU pernah mengatakan, siapa yang mengurus NU maka itu adalah santri saya. Maka tugas kita hari ini adalah menjaga NU dengan ketulusan,” ujarnya.
NU, Ketulusan Ulama, dan Penjaga Bangsa
Dalam sambutannya, Mas Ibin juga menegaskan peran historis NU dalam menjaga keutuhan Indonesia. Ia menyebut Resolusi Jihad 1945 sebagai bukti nyata kontribusi NU dalam mempertahankan kemerdekaan, yang kemudian berlanjut dalam menjaga NKRI pada berbagai fase sejarah bangsa.
“Peran Nahdlatul Ulama sangatlah besar. Tahun 1945, NU menginisiasi Resolusi Jihad. Tahun 1965 hingga reformasi, NU tetap berdiri menjaga NKRI. Sampai hari ini, bangsa ini akan sulit berkembang dan tegak tanpa Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
Mas Ibin menekankan bahwa kekuatan NU terletak pada ketulusan ulama dan warganya. Ia mencontohkan bagaimana para kiai dan santri berada di barisan terdepan saat bangsa membutuhkan, namun kembali ke pesantren dan masyarakat setelah tugas selesai tanpa menuntut jabatan atau kekuasaan.
“Dulu ketika ada panggilan jihad, yang paling depan adalah kader-kader NU. Tapi setelah selesai berjuang, mereka kembali ke pesantren, kembali mengajar, kembali ke masyarakat. Inilah ketulusan Nahdlatul Ulama,” katanya.
Menurut Mas Ibin, nilai ketulusan itulah yang harus terus diteladani oleh generasi hari ini. Di tengah berbagai persoalan bangsa, NU memilih jalan doa, istighosah, dan kebersamaan sebagai ikhtiar spiritual sekaligus sosial.
“Kalau bangsa ini sedang menghadapi masalah, maka kita duduk bersama, berdoa, istighosah. Insyaallah bangsa ini akan makmur, sejahtera, dan semua persoalan bisa dipecahkan dengan rahmat dan ridho Allah SWT,” ucapnya.
Mas Ibin juga menegaskan bahwa dirinya hadir bukan hanya sebagai wali kota, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar NU. Ia diketahui merupakan kader Banser dan menjabat Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor, sehingga pesan yang disampaikannya lahir dari pengalaman kultural dan ideologis di lingkungan Nahdliyin.
Istighosah Akbar Harlah NU ke-100 di Kota Blitar pun menjadi momentum refleksi bersama. Di usia satu abad, NU kembali ditegaskan sebagai rumah besar umat, penjaga moral bangsa, dan teladan ketulusan dalam berkhidmat kepada agama dan negara.





