Daily Dose Indonesia — Pemerintah Kabupaten Blitar kembali memaksimalkan pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal. Melalui program Sang Kapten 2025, sepanjang tahun 2025 di bulan Oktober sebanyak 143 peserta dari tujuh skema vokasi resmi menyelesaikan rangkaian pelatihan, sertifikasi kompetensi BNSP, hingga magang industri.
Program yang dikelola Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Blitar ini disebut sebagai paket lengkap 3 in 1 karena tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga memberikan sertifikasi profesi berstandar nasional serta pengalaman kerja langsung di dunia usaha dan industri (DUDI).
Kepala Bidang Pelatihan Kerja, Produktivitas Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Disnaker Kabupaten Blitar, Latip Usman, mengatakan bahwa sertifikasi BNSP menjadi kunci meningkatnya kepercayaan industri terhadap lulusan program ini.
“Perusahaan kebanyakan sekarang maunya tenaga yang sudah tersertifikasi. Sertifikat BNSP itu bukan sekadar kertas, tapi bukti bahwa peserta memang kompeten sesuai standar nasional. Jadi saat melamar kerja atau magang, trust industri jauh lebih kuat,” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis (20/11/2025).
Ia menjelaskan, sertifikat BNSP yang diberikan kepada peserta Sang Kapten dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang sudah terlisensi resmi. Dengan demikian, calon pekerja memiliki bukti kompetensi yang sah dan diakui industri—baik di sektor jasa, kuliner, kecantikan, hingga bidang teknis.
Sertifikasi BNSP Tingkatkan Kepercayaan Industri dan Peluang Kerja Peserta
Latip menjelaskan bahwa sertifikasi kompetensi menjadi pembeda utama Sang Kapten dengan pelatihan vokasi biasa. Industri kini lebih selektif dalam menerima pekerja baru, sehingga sertifikat menjadi alat validasi kualitas.
“Begitu melihat peserta punya sertifikat BNSP, mereka langsung percaya bahwa kemampuan teknisnya bisa dipertanggungjawabkan,” kata Latip.
Menurutnya, program ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Banyak perusahaan menginginkan tenaga kerja yang siap pakai, sehingga sertifikasi menjadi standar minimum untuk memastikan peserta mampu bekerja sesuai prosedur dan standar industri.
Selain itu, pola 3 in 1 membuat peserta memperoleh pengalaman lengkap:
-
Pelatihan vokasi yang dirancang berdasarkan kebutuhan industri.
-
Uji kompetensi oleh asesor profesional.
-
Magang di perusahaan terkait agar peserta mengenal ritme kerja nyata.
Hasilnya, beberapa alumni langsung direkrut oleh tempat magang karena dinilai mampu bekerja sesuai kebutuhan perusahaan.
Latip menambahkan bahwa DBHCHT berperan besar dalam menjadikan pelatihan ini inklusif dan gratis bagi masyarakat. Skema pendanaan ini memastikan bahwa peningkatan kualitas SDM tidak hanya dinikmati kelompok tertentu, melainkan menyeluruh.
“DBHCHT harus kembali ke masyarakat. Salah satunya lewat peningkatan kualitas SDM. Dengan sertifikat BNSP, anak-anak muda di Blitar punya peluang lebih besar diterima industri, bahkan berwirausaha,” ujarnya.
Ia memastikan bahwa Disnaker masih melakukan monitoring dan penelusuran alumni pada November–Desember untuk memastikan dampak program benar-benar dirasakan peserta.
Dengan sertifikasi BNSP yang semakin menjadi standar industri, program Sang Kapten terbukti menjadi motor penguatan vokasi Kabupaten Blitar. Melalui dukungan DBHCHT dan kolaborasi dengan berbagai pihak, Disnaker menegaskan komitmennya melahirkan generasi tenaga kerja yang kompeten, percaya diri, dan siap bersaing di dunia usaha.





